Pelajaran dari Kisah Paku di Tiang

No comment yet
Pada suatu ketika, ada seorang bapak yang mempunyai anak laki-laki bernama Mat. Mat besar menjadi seorang yang lalai menjalankan perintah agama. Meskipun telah berbuih nasehat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat shalat, puasa dan melaksanakan amal kebaikan lainnya, dia tetap meninggalkannya. Malahan kejahatan yang menjadi kebiasaannya.

Berjudi, mabuk-mabukan, dan seribu macam jenis kemaksiatan menjadi kebanggaan dan kebiasaannya. Suatu hari bapak tadi memanggil anaknya dan berkata, “Mat, kau benar-benar telah lalai dan berbuat banyak kemungkaran. Mulai hari ini aku akan tancapkan satu paku tiang di tengah halaman rumah kita, setiap kali kau berbuat satu kejahatan,maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebaikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.”

Bapaknya melakukan seperti apa yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut. Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang sekali dia mencabut paku dari tiang.

Hari berganti, beberapa bulan berlalu, dari musim hujan berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun belalu.Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku. Ada yang berkarat karena hujan dan panas. Setelah melihat keadaan tiang yang bersusun dengan paku-paku yang merusak pandangan mata, timbullah rasa malu. Maka dia pun berjanji untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mulai shalat. Hari itu saja lima batang paku dicabut ayahnya dari tiang. Besoknya shalat lagi ditambah dengan sunat-sunatnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari, semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggal, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnyapun memanggil anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabut sekarang. Tidakkah kamu gembira?” Mat merenung pada tiang tersebut, tapi dibalik rasa gembira sebagai yang diduga oleh ayahnya, dia mula menangis teresak-esak. “Kenapa anakku?” tanya ayahnya, “ku sangka engkau gembira karena semua paku-paku telah tiada.”Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar kata bapak, paku-paku itu sudah tidak ada, tapi aku sedih sebab bekas-bekas lubang dari paku itu tetap ada di tiang, bersama dengan karatnya.”

Sahabat, Dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang berulang kali dilakukan hingga menjadi suatu kebiasaan, kita mungkin bisa mengatasinya, atau secara beransur-ansur menghapuskannya, tapi ingatlah bahawa bekas-bekasnya akan abadi. Dari itu, hendaklah kita menyadari diri ini untuk melakukan suatu kemungkaran, ataupun ketika kita berhasrat melakukan dan kemaksiatan, maka bersegeralah untuk membatalkannya. Sebab setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah menanamkan sebatang paku lagi yang akan meninggalkan bekas pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apalagi kalau kita biarkan paku berkarat dalam diri ini lambat untuk mencabutnya. Lebih parah lagi kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.

Comments
0 Comments

Posting Komentar

HOME

Copyright © 2013-2020 Ary Art Design